![]() |
| Simpang Lima-Tarogong |
Babad Timbanganten awalnya merupakan naskah wawacan yang ditulis dengan
huruf latin, koleksi perpustakaan Nasional Jakarta. Kisahnya diambil
dari legenda yang pernah hidup dilingkungan masyarakat Garut. Kisah ini
sempat pula disadur ke dalam naskah Gending Karesmen (Operet Sunda) oleh
sastrawan Wahyu Wibisana, dan sempat dipentaskan secara kolosal di
Garut pada tahun 1964 dengan judul "Ratu Inten Dewata".
![]() |
| Bumi Timbanganten, kini di kenal Tarogong |
Babad ini mengisahkan Ratu Pasehan yang berkuasa di Timanganten. Karena
tidak memiliki putra, kepada Prabu Siliwangi ia meminta penggantinya
sebagai Raja Timbanganten. Namun Prabu Siliwangi malah mengirim Sunan
Burung Baok, anaknya dari puteri jin yang buruk perangainya. Tentu saja
kehadiran Sunan Burung Baok meresahkan rakyat Timbanganten.
Ratu Pasehan akhirnya menghukum Sunan Burung Baok. Timbulah
kesalahpahaman antara Ratu Pasehan dan Prabu Siliwangi. Namun persoalan
itu oleh Prabu Siliwangi diselesaikan dengan mengangat Raden Sunan
Panggung, anaknya dari permaisuri yang bernama Maraja Inten Dewata.
Inten Dewata sendiri adalah adikdari Ratu Pasehan.

